APAKAH ADA HUBUNGAN
ANTARA POLA MAKAN DENGAN PENYAKIT KANKER USUS?
Menurut Jurnal Prevalensi
tumor dan beberapa faktor yang mempengaruhinya menyatakan bahwa Kanker
merupakan penyebab ke-matian utama kedua yang memberikan kontribusi 13 % kematian dari 22 % kematian akibat penyakit tidak
menular utama di dunia. Masalah penyakit kanker di Indonesia antara lain hampir
70% penderita penyakit ini ditemukan dalam keadaan stadium yang sudah lanjut. (Ratih
Oemiati, Ekowati Rahajeng, & Antonius Yudi Kristanto, 2011).
Faktor nutrisi merupakan salah satu aspek yang sangat
penting, yang kompleks dan sangat dikaitkan dengan proses patologis kanker.
Secara umum total asupan berbagai lemak (yaitu tipe yang berbeda-beda dari
makanan yang berlemak) bisa dihubung-kan dengan peningkatan insiden beberapa
kanker utama misalnya kanker colon. Disamping itu obesitas juga meningkatkan
risiko untuk kanker dan aktivitas fisik merupakan determinan utama dari
pengeluaran energi akan mengurangi risiko. Dari kajian literatur terlihat
beberapa faktor risiko penyakit kanker antara lain; merokok dan faktor gaya
hidup (khususnya konsumsi sayur dan buah
serta aktivitas fisik ). Hal ini diperjelas dengan per-nyataan
Ray (2005) yang mengatakan bahwa asupan buah dan sayur yang tinggi akan
menurunkan risiko kanker.
Menurut Jurnal Associations
between Red Meat and Risks for Colon and Rectal Cancer Depend on the Type of
Red Meat Consumed
menyatakan bahwa Pada tahun 2007, World Cancer Research Fund / American
Institute untuk Penelitian Kanker (WCRF / AICR) 6 menyimpulkan bahwa daging merah
dan daging olahan yang '' faktor risiko ' untuk kolorektal Kanker. Kesimpulan
ahli ini didukung oleh hasil diperbarui dosis-respons meta-analisis
epidemiologi penelitian yang diterbitkan up sampai Maret 2011, yang menunjukkan
signifikan risiko 17 dan 18% lebih tinggi untuk kanker kolorektal dengan daging
merah dan daging olahan. WCRF / AICR merekomendasikan membatasi asupan daging
merah dan menghindari daging olahan karena semua daging merah mengandung zat
besi heme, ada variasi spesies: jumlah tertinggi telah dilaporkan dalam daging
sapi dan domba. Dengan demikian, jika Potensi efek karsinogenik dari daging
merah didorong oleh besi heme, risiko mungkin bervariasi sesuai dengan subtipe
daging merah. (Egeberg et al., 2013)
Menurut Jurnal Flavonoid:
Struktur, Sifat Antioksidatif Dan
Peranannya Dalam Sistem Biologis menyatakan bahwa tingginya angka penderita kanker payudara,
prostat, pankreas, kolon, ovari, dan endometrium di negara maju berkorelasi
dengan adanya konsumsi tinggi terhadap makanan bergoreng, berkadar lemak
tinggi, kolesterol tinggi dan berserat rendah, sebaliknya peningkatan resiko
terkena penyakit seperti hipertensi, stroke, dan kanker perut dan esophagus di
negara berkembang berkaitan dengan komsumsi yang tinggi terhadap makanan asin,
berempah dan makanan yang proses pengolahannya menggunakan asap (Deshpande et
al., 1985). Adanya distribusi geografis terhadap munculnya
penyakit-penyakit tersebut menunjukkan hubungan yang kuat antara gaya hidup,
tradisi dan pola makan serta kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada masyarakat
setempat.
Fakta di atas menyadarkan manusia
akan pentingnya peranan nutrisi-nutrisi tertentu di dalam makanan dan
korelasinya terhadap asal mula suatu penyakit. Studi epidemiologis mengenai
hubungan penyakit tertentu dengan pola diet seringkali cenderung menunjukkan
adanya hubungan terbalik antara konsumsi pangan, khususnya sayuran berdaun
hijau-kuning dan buah-buahan dengan penyakit-penyakit tertentu (Deshpande et
al., 1985). Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan,
diyakini bahwa flavonoid yang banyak
terdapat pada jaringan tanaman, sereal, sayuran dan buah-buahan bervariasi
dalam jenis, kandungan dan aktivitas antioksidannya. sebagai salah satu
kelompok senyawa fenolik yang memiliki sifat antioksidatif serta berperan dalam
mencegah kerusakan sel dan komponen selularnya oleh radikal bebas reaktif. Penelitian-penelitian mengenai peranan
flavonoid pada tingkat sel, secara in vitro maupun in vivo, membuktikan pula
adanya korelasi negatif antara asupan flavonoid dengan resiko munculnya
penyakit kronis tertentu, salah satunya diduga karena flavonoid memiliki efek
kardioprotektif dan aktivitas antiproliferatif.(Redha, 2010)
Menurut jurnal Serat
Pangan (dietary fiber) dan
Manfaatnya bagi Kesehatan menyatakan
bahwa Pada dekade terakhir ini telah terungkap oleh para ilmuwan bahwa
serat yang terdapat pada bahan pangan ternyata mempunyai efek positif bagi
sistim metabolisme manusia. Awalnya serat dikenal oleh ahli gizi hanya sebagai
pencahar dan tidak memberi reaksi apapun bagi tubuh. Pandangan akan serat mulai
berubah, setelah dilaporkan bahwa konsumsi rendah
serat menyebabkan
banyak kasus penyakit kronis seperti jantung koroner, apendikitis,
divertikulosis dan kanker kolon, serat yang memiliki efek fisiologis tersebut
kemudian disebut sebagai serat pangan atau dietary fiber.
Sayur-sayuran
dan buah-buahan merupakan sumber serat pangan yang sangat mudah ditemukan dalam
bahan makanan. Sayuran merupakan menu yang hampir selalu terdapat dalam
hidangan seharihari masyarakat Indonesia, baik dalam keadaan mentah (lalapan
segar) atau setelah diolah menjadi berbagai macam bentuk masakan. Akhir-akhir
ini adanya perubahan pola konsumsi pangan di Indonesia menyebabkan berkurangnya
konsumsi sayuran dan buah-buahan hampir di semua propinsi di Indonesia. Keadaan
tersebut diikuti juga terjadinya pergeseran atau perubahan pola penyakit
penyebab mortalitas dan morbiditas di kalangan masyarakat, ditandai dengan
dengan perubahan pola penyakit-penyakit infeksi menjadi penyakit-penyakit
degeneratif dan metabolik. (Santoso, 2011)
Menurut Jurnal Serat
Makanan dan Peranannya bagi Kesehatan menyatakan bahwa serat larut
yang berbentuk viskus dapat memperpanjang waktu pengosongan lambung. Serat
larut guar dan pectin memperpanjang waktu transit di usus, sebaliknya
serat tidak larut memperpendek waktu transit di usus. Serat makanan berpengaruh
juga pada pelepasan hormon intestinal, dapat mengikat kalsium, zat besi, seng
dan zat organic lainnya, juga dapat mengikat kolesterol dan asam empedu
sehingga berpengaruh pada sirkulasi enterohepatik kolesterol. Dalam usus besar,
serat dapat difermentasi oleh bakteri kolon dan dapat menghasilkan asam lemak
rantai pendek yang mungkin dapat menghambat
mobilisasi asam lemak dan mengurangi glukoneogenesis. Hal ini
akan berpengaruh pada pemakaian glukosa, sekresi insulin dan pemakaian glukosa
oleh sel hati. Selanjutnya peran serat dalam pencegahan kanker kolon dibahas oleh Daldiyono et al.
(1990), dikatakan bahwa serat makanan terutama yang terdiri dari selulosa,
hemiselulosa dan lignin sebagian besar tidak dapat dihancurkan oleh enzim-enzim
dan bakteri di dalam traktus digestivus. Serat makanan ini akan menyerap air di
dalam kolon, sehingga volume feses menjadi lebih besar dan akan merangsang
syaraf pada rektum, sehingga menimbulkan keinginan untuk defikasi. Dengan
demikian tinja yang mengandung serat akan lebih mudah dieliminir atau dengan
kata lain transit time yaitu kurun waktu antara masuknya makanan dan
dikeluarkannya sebagai sisa makanan yang tidak dibutuhkan tubuh menjadi lebih
singkat. Waktu transit yang pendek, menyebabkan kontak antara zat-zat iritatif
dengan mukosa kolorektal menjadi singkat, sehingga dapat mencegah terjadinya
penyakit di kolon dan rektum. Di samping menyerap air, serat makanan juga
menyerap asam empedu sehingga hanya sedikit asam empedu yang dapat merangsang
mukosa kolorektal, sehingga timbulnya karsinoma kolorektal dapat dicegah.(Kusharto, 2006)
KESIMPULAN
Dari pertanyaan yang telah dikemukaan mengenai “apakah ada
hubungan antara pola makanan dengan penyakit kanker usus?” dapat disimpulkan
dari 5 literatur jurnal yang telah dibahas bahwa ternyata ada hubungan pola
makanan yang dimakan oleh seseorang terhadap faktor resiko terserang penyakit
kanker usus , yaitu karena terlalu banyak mengkonsumsi daging merah dan daging
olahan karena mengandung zat besi heme (Egeberg et al., 2013). Kemudian tingginya angka penderita kanker
payudara, prostat, pankreas, kolon, ovari, dan endometrium di negara maju
berkorelasi dengan adanya konsumsi tinggi terhadap makanan bergoreng, berkadar
lemak tinggi, kolesterol tinggi dan berserat rendah (Redha, 2010).
kemudian direkomendasikan bagi setiap orang untuk dapat mengkonsumsi sereal,
sayuran dan buah-buahan bervariasi dalam jenis, kandungan dan aktivitas
antioksidannya sebagai salah satu
kelompok senyawa fenolik yang memiliki sifat antioksidatif serta berperan dalam
mencegah kerusakan sel (Santoso, 2011) dan komponen selularnya oleh
radikal bebas reaktif dan serat makanan terutama yang terdiri dari selulosa,
hemiselulosa dan lignin sebagian besar tidak dapat dihancurkan oleh enzim-enzim
dan bakteri di dalam traktus digestivus. Serat makanan ini akan menyerap air di
dalam kolon, sehingga volume feses menjadi lebih besar dan akan merangsang
syaraf pada rektum, sehingga menimbulkan keinginan untuk defikasi. Dengan
demikian tinja yang mengandung serat akan lebih mudah dieliminir atau dengan
kata lain transit time yaitu kurun waktu antara masuknya makanan dan
dikeluarkannya sebagai sisa makanan yang tidak dibutuhkan tubuh menjadi lebih
singkat. Waktu transit yang pendek, menyebabkan kontak antara zat-zat iritatif
dengan mukosa kolorektal menjadi singkat, sehingga dapat mencegah terjadinya
penyakit di kolon dan rektum. Di samping menyerap air, serat makanan juga
menyerap asam empedu sehingga hanya sedikit asam empedu yang dapat merangsang
mukosa kolorektal, sehingga timbulnya karsinoma kolorektal dapat dicegah.(Kusharto, 2006).
DAFTAR
PUSTAKA
Egeberg, R., Olsen, A.,
Christensen, J., Halkjær, J., Jakobsen, M. U., Overvad, K., & Tjønneland,
A. (2013). Associations between red meat and risks for colon and rectal cancer
depend on the type of red meat consumed. The Journal of Nutrition, 143,
464–472. http://doi.org/10.3945/jn.112.168799
Kusharto, C. M. (2006).
Serat makanan dan peranannya bagi kesehatan. Jurnal Gizi Dan Pangan, 1(November),
45–54.
Ratih Oemiati, Ekowati
Rahajeng, & Antonius Yudi Kristanto. (2011). Prevalensi Tumor Dan Beberapa
Faktor Yang Mempengaruhinya Di Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan, 39(4),
190–204.
Redha, A. (2010).
Flavonoid: Struktur, Sifat Antioksidatif dan Peranannya Dalam Sistem Biologis. Jurnal
Berlin, 9(2), 196–202.
Santoso, A. (2011).
Serat Pangan (Dietary Fiber) dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. Magistra,
(75), 35–40.