Sabtu, 29 Oktober 2016

APAKAH ADA HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DENGAN PENYAKIT KANKER USUS?

Menurut Jurnal Prevalensi tumor dan beberapa faktor yang mempengaruhinya menyatakan bahwa Kanker merupakan penyebab ke-matian utama kedua yang memberikan kontribusi 13 % kematian dari 22 % kematian akibat penyakit tidak menular utama di dunia. Masalah penyakit kanker di Indonesia antara lain hampir 70% penderita penyakit ini ditemukan dalam keadaan stadium yang sudah lanjut. (Ratih Oemiati, Ekowati Rahajeng, & Antonius Yudi Kristanto, 2011).
Faktor nutrisi merupakan salah satu aspek yang sangat penting, yang kompleks dan sangat dikaitkan dengan proses patologis kanker. Secara umum total asupan berbagai lemak (yaitu tipe yang berbeda-beda dari makanan yang berlemak) bisa dihubung-kan dengan peningkatan insiden beberapa kanker utama misalnya kanker colon. Disamping itu obesitas juga meningkatkan risiko untuk kanker dan aktivitas fisik merupakan determinan utama dari pengeluaran energi akan mengurangi risiko. Dari kajian literatur terlihat beberapa faktor risiko penyakit kanker antara lain; merokok dan faktor gaya hidup (khususnya konsumsi sayur  dan buah serta aktivitas fisik ). Hal ini diperjelas dengan per-nyataan Ray (2005) yang mengatakan bahwa asupan buah dan sayur yang tinggi akan menurunkan risiko kanker.

Menurut Jurnal Associations between Red Meat and Risks for Colon and Rectal Cancer Depend on the Type of Red Meat Consumed menyatakan bahwa Pada tahun 2007, World Cancer Research Fund / American Institute untuk Penelitian Kanker (WCRF / AICR) 6 menyimpulkan bahwa daging merah dan daging olahan yang '' faktor risiko ' untuk kolorektal Kanker. Kesimpulan ahli ini didukung oleh hasil diperbarui dosis-respons meta-analisis epidemiologi penelitian yang diterbitkan up sampai Maret 2011, yang menunjukkan signifikan risiko 17 dan 18% lebih tinggi untuk kanker kolorektal dengan daging merah dan daging olahan. WCRF / AICR merekomendasikan membatasi asupan daging merah dan menghindari daging olahan karena semua daging merah mengandung zat besi heme, ada variasi spesies: jumlah tertinggi telah dilaporkan dalam daging sapi dan domba. Dengan demikian, jika Potensi efek karsinogenik dari daging merah didorong oleh besi heme, risiko mungkin bervariasi sesuai dengan subtipe daging merah. (Egeberg et al., 2013)

Menurut Jurnal Flavonoid: Struktur, Sifat Antioksidatif Dan  Peranannya Dalam Sistem Biologis menyatakan bahwa tingginya angka penderita kanker payudara, prostat, pankreas, kolon, ovari, dan endometrium di negara maju berkorelasi dengan adanya konsumsi tinggi terhadap makanan bergoreng, berkadar lemak tinggi, kolesterol tinggi dan berserat rendah, sebaliknya peningkatan resiko terkena penyakit seperti hipertensi, stroke, dan kanker perut dan esophagus di negara berkembang berkaitan dengan komsumsi yang tinggi terhadap makanan asin, berempah dan makanan yang proses pengolahannya menggunakan asap (Deshpande et al., 1985). Adanya distribusi geografis terhadap munculnya penyakit-penyakit tersebut menunjukkan hubungan yang kuat antara gaya hidup, tradisi dan pola makan serta kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada masyarakat setempat.
Fakta di atas menyadarkan manusia akan pentingnya peranan nutrisi-nutrisi tertentu di dalam makanan dan korelasinya terhadap asal mula suatu penyakit. Studi epidemiologis mengenai hubungan penyakit tertentu dengan pola diet seringkali cenderung menunjukkan adanya hubungan terbalik antara konsumsi pangan, khususnya sayuran berdaun hijau-kuning dan buah-buahan dengan penyakit-penyakit tertentu (Deshpande et al., 1985). Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, diyakini bahwa flavonoid yang  banyak terdapat pada jaringan tanaman, sereal, sayuran dan buah-buahan bervariasi dalam jenis, kandungan dan aktivitas antioksidannya. sebagai salah satu kelompok senyawa fenolik yang memiliki sifat antioksidatif serta berperan dalam mencegah kerusakan sel dan komponen selularnya oleh radikal bebas reaktif.  Penelitian-penelitian mengenai peranan flavonoid pada tingkat sel, secara in vitro maupun in vivo, membuktikan pula adanya korelasi negatif antara asupan flavonoid dengan resiko munculnya penyakit kronis tertentu, salah satunya diduga karena flavonoid memiliki efek kardioprotektif dan aktivitas antiproliferatif.(Redha, 2010)

Menurut jurnal Serat Pangan (dietary fiber) dan Manfaatnya bagi Kesehatan menyatakan bahwa Pada dekade terakhir ini telah terungkap oleh para ilmuwan bahwa serat yang terdapat pada bahan pangan ternyata mempunyai efek positif bagi sistim metabolisme manusia. Awalnya serat dikenal oleh ahli gizi hanya sebagai pencahar dan tidak memberi reaksi apapun bagi tubuh. Pandangan akan serat mulai berubah, setelah dilaporkan bahwa konsumsi rendah
serat menyebabkan banyak kasus penyakit kronis seperti jantung koroner, apendikitis, divertikulosis dan kanker kolon, serat yang memiliki efek fisiologis tersebut kemudian disebut sebagai serat pangan atau dietary fiber.
Sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan sumber serat pangan yang sangat mudah ditemukan dalam bahan makanan. Sayuran merupakan menu yang hampir selalu terdapat dalam hidangan seharihari masyarakat Indonesia, baik dalam keadaan mentah (lalapan segar) atau setelah diolah menjadi berbagai macam bentuk masakan. Akhir-akhir ini adanya perubahan pola konsumsi pangan di Indonesia menyebabkan berkurangnya konsumsi sayuran dan buah-buahan hampir di semua propinsi di Indonesia. Keadaan tersebut diikuti juga terjadinya pergeseran atau perubahan pola penyakit penyebab mortalitas dan morbiditas di kalangan masyarakat, ditandai dengan dengan perubahan pola penyakit-penyakit infeksi menjadi penyakit-penyakit degeneratif dan metabolik. (Santoso, 2011)

Menurut Jurnal Serat Makanan dan Peranannya bagi Kesehatan menyatakan bahwa serat larut yang berbentuk viskus dapat memperpanjang waktu pengosongan lambung. Serat larut guar dan pectin memperpanjang waktu transit di usus, sebaliknya serat tidak larut memperpendek waktu transit di usus. Serat makanan berpengaruh juga pada pelepasan hormon intestinal, dapat mengikat kalsium, zat besi, seng dan zat organic lainnya, juga dapat mengikat kolesterol dan asam empedu sehingga berpengaruh pada sirkulasi enterohepatik kolesterol. Dalam usus besar, serat dapat difermentasi oleh bakteri kolon dan dapat menghasilkan asam lemak rantai pendek yang mungkin dapat menghambat
mobilisasi asam lemak dan mengurangi glukoneogenesis. Hal ini akan berpengaruh pada pemakaian glukosa, sekresi insulin dan pemakaian glukosa oleh sel hati. Selanjutnya peran serat dalam pencegahan kanker kolon dibahas oleh Daldiyono et al. (1990), dikatakan bahwa serat makanan terutama yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin sebagian besar tidak dapat dihancurkan oleh enzim-enzim dan bakteri di dalam traktus digestivus. Serat makanan ini akan menyerap air di dalam kolon, sehingga volume feses menjadi lebih besar dan akan merangsang syaraf pada rektum, sehingga menimbulkan keinginan untuk defikasi. Dengan demikian tinja yang mengandung serat akan lebih mudah dieliminir atau dengan kata lain transit time yaitu kurun waktu antara masuknya makanan dan dikeluarkannya sebagai sisa makanan yang tidak dibutuhkan tubuh menjadi lebih singkat. Waktu transit yang pendek, menyebabkan kontak antara zat-zat iritatif dengan mukosa kolorektal menjadi singkat, sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit di kolon dan rektum. Di samping menyerap air, serat makanan juga menyerap asam empedu sehingga hanya sedikit asam empedu yang dapat merangsang mukosa kolorektal, sehingga timbulnya karsinoma kolorektal dapat dicegah.(Kusharto, 2006)

KESIMPULAN
Dari pertanyaan yang telah dikemukaan mengenai “apakah ada hubungan antara pola makanan dengan penyakit kanker usus?” dapat disimpulkan dari 5 literatur jurnal yang telah dibahas bahwa ternyata ada hubungan pola makanan yang dimakan oleh seseorang terhadap faktor resiko terserang penyakit kanker usus , yaitu karena terlalu banyak mengkonsumsi daging merah dan daging olahan karena mengandung zat besi heme (Egeberg et al., 2013).  Kemudian tingginya angka penderita kanker payudara, prostat, pankreas, kolon, ovari, dan endometrium di negara maju berkorelasi dengan adanya konsumsi tinggi terhadap makanan bergoreng, berkadar lemak tinggi, kolesterol tinggi dan berserat rendah (Redha, 2010).  kemudian direkomendasikan bagi setiap orang untuk dapat mengkonsumsi sereal, sayuran dan buah-buahan bervariasi dalam jenis, kandungan dan aktivitas antioksidannya  sebagai salah satu kelompok senyawa fenolik yang memiliki sifat antioksidatif serta berperan dalam mencegah kerusakan sel (Santoso, 2011) dan komponen selularnya oleh radikal bebas reaktif dan serat makanan terutama yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin sebagian besar tidak dapat dihancurkan oleh enzim-enzim dan bakteri di dalam traktus digestivus. Serat makanan ini akan menyerap air di dalam kolon, sehingga volume feses menjadi lebih besar dan akan merangsang syaraf pada rektum, sehingga menimbulkan keinginan untuk defikasi. Dengan demikian tinja yang mengandung serat akan lebih mudah dieliminir atau dengan kata lain transit time yaitu kurun waktu antara masuknya makanan dan dikeluarkannya sebagai sisa makanan yang tidak dibutuhkan tubuh menjadi lebih singkat. Waktu transit yang pendek, menyebabkan kontak antara zat-zat iritatif dengan mukosa kolorektal menjadi singkat, sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit di kolon dan rektum. Di samping menyerap air, serat makanan juga menyerap asam empedu sehingga hanya sedikit asam empedu yang dapat merangsang mukosa kolorektal, sehingga timbulnya karsinoma kolorektal dapat dicegah.(Kusharto, 2006).


DAFTAR PUSTAKA
Egeberg, R., Olsen, A., Christensen, J., Halkjær, J., Jakobsen, M. U., Overvad, K., & Tjønneland, A. (2013). Associations between red meat and risks for colon and rectal cancer depend on the type of red meat consumed. The Journal of Nutrition, 143, 464–472. http://doi.org/10.3945/jn.112.168799
Kusharto, C. M. (2006). Serat makanan dan peranannya bagi kesehatan. Jurnal Gizi Dan Pangan, 1(November), 45–54.
Ratih Oemiati, Ekowati Rahajeng, & Antonius Yudi Kristanto. (2011). Prevalensi Tumor Dan Beberapa Faktor Yang Mempengaruhinya Di Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan, 39(4), 190–204.
Redha, A. (2010). Flavonoid: Struktur, Sifat Antioksidatif dan Peranannya Dalam Sistem Biologis. Jurnal Berlin, 9(2), 196–202.
Santoso, A. (2011). Serat Pangan (Dietary Fiber) dan Manfaatnya Bagi Kesehatan. Magistra, (75), 35–40.